Ada seorang kakek muslim bertamu kerumah salah satu tetangga yang beragama Yahudi. Menariknya, si pemilik rumah ketika menyuguhkan teh, hanya memberi gula buat tamunya. Sedangkan buat dirinya sendiri malah tidak memakai gula. Si kakek yang menjadi tamu tidak enak hati bersama menanyakan, “Mengapa anda tidak pakai gula sedangkan teh aku engkau beri gula?” Jawabannya ternyata sangat menarik. Si pemilik rumah yang Yahudi itu menyampaikan bahwa dengan minum the tanpa gula, dia bisa berhemat untuk bisa menyumbang untuk perjuangan Israel di Palestina. “Kami sekeluarga 5 orang bersama setiap hari kami minum 2 kali. Setiap minum teh, satu orang diantara kami bisa menghabiskan 2 cangkir teh. Ini berarti dalam sehari seorang diantara kami minum 4 cangkir teh. Bila jumlah ini dikalikan 5 sesuai jumlah keluarga kami, maka dalam sehari kami akan menghabiskan 20 cangkir teh. Mengingat setiap cangkir teh membutuhkan dua balok gula, maka total gula yang akan kami habiskan dalam sehari adalah 40 balok. Maka kami berikan kepada penanggulangan bantuan Yahudi yang miskin.” Itulah diantara kisah menarik yang diangkat oleh Dr. Nawwaf Takruri dalam bukunya Al jihad bil maal fi sabilillah. Luar biasa, untuk mewujudkan cita-cita mereka menguasai bumi Palestina, mereka rela bernyawa hemat, termasuk menghemat makanan beserta minum, karna merasa terpanggil untuk membantu saudara mereka sesame Yahudi. Lantas macam mana dengan kita ?? Meneladani Orang2 terdahulu yang shaleh bila setiap hari kita mau menyisihkan satu bagian rizky yang kita dapatkan, mungkin hanya limaratus atau seribu rupiah saja untuk kita masukan ke kotak infak dirumah kita tiap-tiap untuk selanjutnya kita serahkan kepada kaum muslimin yang membutuhkan, kita mengakui berbagai macam problematika yang dihadapi umat Islam Insya Allah akan terselesaikan. Contohnya penanggulangan pemurtadan, pemberian modal kepada umat Islam yang miskin, membatu biaya pengobatan kaum Muslimin yang tidak sehat, beasiswa kepada siswa atau santri yang tidak mampu atau kita salurkan untuk kaum muslimin di negri-negri jihad yang butuh sekali uluran tangan dari orang-orang muslimin. Budaya bersedekah dikala lapang maupun susah, dengan harta yang lebih dari satu maupun sedikit adalah kebiasaan yang sering dijalankan oleh salaf shaleh. Mari kita lihat semangat kaum muslimin pada jaman Rosulullah Sallallahu 'laihi wasallam dalam menyambut seruan infak fi sabilillah. Menjelang perang Tabuk, perang yang amat berat bagi kaum muslimin ketika itu. Karna musim paceklik sedang melanda kota Madinah jazirah Arab, perekonomian kaum muslimin pula sedang rumit-sulitnya, musim panas sedang ada di puncaknya. Rosulullah Sallallahu 'laihi wasallam menyebut pasukan yang akan berangkat tersebut dengan jaisyul’usrah (pasukan yang mengalami kesulitan). Rosulullah memotivasi kepada kaum muslimin untuk menginfakkan hartanya dijalan Allah. Umat islampun berbondong-bondong menyambut seruan tersebut. Abu Bakar datang sambil menenteng harta yang dia punya sejumlah 4.000 dirham. Umar bin khotob menyerahkan 50% hartanya. Utsman menenteng seribu dinar didalam pakaiannya, lalu beliau taburkan di pangkuan Rosulullah. Tidak lama kemudian datang pula Abdurahman bin Auf sang dermawan, bersama membawa 200 uqiyah perak. Datang pula Abbas bin Abdul Mutholib paman nabi, Talhah bin ubaidillah, Sa’ad bin Ubadah bersama Muhammad bin Maslamah. Orang-orang yang tidak mampu pula tidak mau ketinggalan membawa infaq semampunya, dimulai oleh Ashim bin Adiy mencangking 70 wasaq kurma, ada yang membawa dua mud bahkan satu mud kurma (satu mud=dua telapak tangan orang dewasa). Kaum wanita berlomba-lomba menyerahkan berbagai perhiasannya. Tidak satupun kaum muslimin yang tidak memberi kecuali kaum munafiqin.
0 Response to "tes"
Post a Comment